IDENTIFIKASI POTENSI BAHAYA, MITIGASI BENCANA, DAN SISTEM PERINGATAN DINI CUACA DALAM BERWISATA

  • Jul 17, 2026
  • H. M. Zainuri

Banjarmasin – Dalam rangka meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor pariwisata, Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan menyelenggarakan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Keselamatan Wisata dengan tema "Mewujudkan Wisata Bahari yang Aman". Salah satu materi utama dalam kegiatan tersebut disampaikan oleh narasumber dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai Identifikasi Potensi Bahaya, Mitigasi Bencana, serta Sistem Peringatan Dini Cuaca dan Kondisi Alam dalam Pariwisata.

Pelatihan ini diikuti oleh pengelola destinasi wisata, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pelaku usaha pariwisata, komunitas wisata, Asosiasi pariwisata ( ASITA, APPERWI, HPI, PHRI DAN ASPPI )

serta berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam pengelolaan destinasi wisata, khususnya wisata bahari.

Narasumber Pertama dari BMKG yaitu bapa Nanda Alfuadi memaparkan Cara Memahami Cuaca Untuk Keselamatan Berwisata menjelaskan bahwa keselamatan wisatawan harus menjadi prioritas utama dalam pengelolaan destinasi wisata. Pengelola destinasi perlu memahami berbagai potensi bahaya yang dapat terjadi akibat faktor cuaca maupun kondisi alam, seperti hujan lebat, angin kencang, petir, banjir, gelombang tinggi, pasang air laut, serta perubahan cuaca yang dapat terjadi secara cepat dan memengaruhi aktivitas wisata.

Selain memberikan pemahaman mengenai identifikasi potensi bahaya, BMKG juga menjelaskan pentingnya penerapan langkah-langkah mitigasi bencana. Materi yang disampaikan meliputi penyusunan peta risiko kawasan wisata, penetapan jalur evakuasi, penyediaan titik kumpul, pemasangan rambu keselamatan, penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) keadaan darurat, hingga pelaksanaan simulasi evakuasi secara berkala. Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu meminimalkan risiko dan dampak apabila terjadi bencana maupun kondisi cuaca ekstrem.

Pada narasumber Berikutnya , peserta mendapatkan pembekalan mengenai Sistem Peringatan Dini (Early Warning System) dalam mendukung keselamatan destinasi wisata. BMKG menekankan pentingnya memanfaatkan informasi prakiraan cuaca, peringatan dini cuaca ekstrem, informasi gelombang laut, arah angin, serta kondisi atmosfer yang diterbitkan secara resmi oleh BMKG sebagai dasar pengambilan keputusan operasional di kawasan wisata.

Materi ini di sampaikan oleh Dedy Supratono Dari BMKG

Peserta juga diperkenalkan dengan berbagai layanan informasi BMKG yang dapat diakses melalui situs web resmi, aplikasi Info BMKG, media sosial, maupun kanal informasi lainnya. Melalui layanan tersebut, pengelola destinasi dapat memantau perkembangan cuaca secara berkala dan mengambil langkah antisipasi, seperti menunda aktivitas wisata, membatasi kegiatan di area tertentu, atau menutup sementara kawasan wisata apabila kondisi dinilai berpotensi membahayakan keselamatan pengunjung.

Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan diskusi, studi kasus, dan simulasi penanganan keadaan darurat yang melibatkan seluruh peserta. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan mengenai penanganan cuaca ekstrem di kawasan wisata serta upaya membangun koordinasi yang efektif antara pengelola destinasi, pemerintah daerah, BMKG, aparat keamanan, dan tenaga kesehatan.

Melalui pelatihan ini, Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan berharap seluruh pengelola destinasi wisata semakin memahami pentingnya budaya sadar bencana dan mampu menerapkan standar keselamatan yang sesuai dalam setiap aktivitas kepariwisataan. Sementara itu, BMKG mengajak seluruh pelaku pariwisata untuk selalu memanfaatkan informasi cuaca dan peringatan dini sebagai bagian dari upaya memberikan perlindungan kepada wisatawan.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan destinasi wisata di Kalimantan Selatan, khususnya wisata bahari, semakin aman, nyaman, tangguh terhadap bencana, dan mampu memberikan pengalaman berwisata yang berkualitas sehingga mendukung pengembangan sektor pariwisata yang berkelanjutan.